Selasa, 21 Juli 2015

CINTA DALAM RIDHO-NYA (sebuah cerpen)


Orang bisa beranjak tua, tetapi kebahagiaan tak pernah memandang usia. Teruntuk Abah dan nini Neneng selamat berbahagia! Penuh harapan dari kami sekeluarga, kalian selalu dinaungi oleh ridho-Nya dalam janji suci setia.
Tiga syawal, ikrar pernikahan telah sah dikumandangkan dengan tegas oleh Abah, kakekku. Di usianya yang senja kini, wajahnya tetap menyiratkan senyum daun segar. Terlebih ketika telah ditetapkannya seorang wanita cantik resmi menjadi istrinya. Wanita yang tak berbeda jauh usianya dengan kakek. Wanita yang telah terpilih dan dipilih oleh sepasang kekasih sejati: kakek dan nenekku.

Tapi sekarang, nenekku sudah tiada. Beliau pergi meninggalkan seorang laki-laki yang menjadi pendamping hidupnya sampai akhir hayat. Bahkan di saat ia tengah ditemani malaikat maut, kala menunggu detik-detik kepergiannya, laki-laki itu terus berada di sampingnya. Deras hati kakek menangis tapi wajahnya kosong menatap sendu. Pandangannya menerawang mengingat keinginan terkahir sang pujaan hati bahwa ia ingin meninggal dalam pangkuan suaminya.


Hingga nenek benar-benar menghembuskan napas terakhirnya dalam tenang, kakek belum bisa mewujudkan keinginan terakhir sang istri tercinta. Ia hanya bisa mendekapnya, menciumnya, dan mengucapkan betapa ia mencintainya. Kakek tak ingin mengucapkan itu: salam perpisahan—yang baginya akan sangat menyayat hati. Ia yakin di suatu tempat yang jauh lebih indah, suatu hari nanti, mereka akan dipersua kembali.

***

Orang yang pergi biasanya meninggalkan wasiat-wasiat untuk yang masih hidup. Ada satu wasiat peninggalan nenek yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh kami; keluarga besarnya. Nenek dan kakek memiliki empat orang anak yang dari keseluruhannya memanenkan 25 orang cucu. Betapa bahagianya nenek dan kakek ketika kami semua tengah berkumpul bercengkrama. Tetapi saat ini, kebahagiaan itu hanya bisa dirasai oleh kakek, bahkan sebagian kebahagiaan itu hilang baginya, lebih karena nenek yang sudah tiada.


Nenek pergi dengan meninggalkan sebuah kotak berisikan seperangkat alat sholat. Kotak itu dihiasi pita kain berwarna perak dan renda merah muda. Pada tutupnya terukir gambar hati yang diberi plastik sehingga transparan terlihatnya. Di dalamnya tampak kain mukena bermotifkan bunga-bunga indah. Kain itu bersih, suci. Nampak baru dan selalu bercahaya. Itulah cahaya kebaikan nenek, yang dengan tulus hati menyiapkan itu semua untuk kebahagiaan suaminya kelak jika ia tiada.


Siapa yang tahu ajal, siapa yang tahu batas usia? Ternyata sakit nenek yang sudah empat bulan ini berujung pada rasa kehilangan yang amat mendalam di hati kami semua, terutama hati kakek. Tetapi nenek tidak menginginkan hal itu. Nenek tak ingin kakek berduka, sedih berkepanjangan, karena kepergiannya. Nenek tak ingin air mata suaminya menetes dan melukai sukma arwahnya. Ia hanya ingin kebahagiaan sang tambatan hati, dengan ataupun tanpa dia.


Seperti sebuah angan yang menjadi kenyataan, firasat nenek bahwa ia yang akan meninggalkan bahtera sakinah ini terlebih dahulu benar-benar terjadi. Tetapi janji nenek untuk membuat kakek bahagia tetap dipenuhinya meski ia sudah berada di alam lain. Nenek pernah berkata kepada kekek bahwa di kala senja usianya kini, ia tidak lagi bisa melayani kakek, memenuhi keinginannya, dan menjadi andalannya dalam menjalani kesehariannya—meski hatinya tetap bisa menjadi satu-satunya sandaran. Bagai mengulum tangkai mawar berduri yang masih segar, ia memberikan mawar itu kepada sang kekasih hati, dengan tulus beriring doa, sebagai tanda cintanya. Ia meminta kakek untuk bersedia menikah lagi.


Betapa sungguh keputusan semacam itu hanya bisa dilontarkan oleh wanita berhati suci. Jiwanya tak pernah dikotori dengan dengki. Mulutnya selalui dipenuhi nasihat-nasihat ilahi. Sukmanya dialiri dengan rasa kasih sayang pada keluarganya. Lantunan dzikir dan doa senantiasa mengalun pada lidahnya. Tak ada testimoni negatif dari orang-orang di sekitarnya tentang dirinya. Raut muka jasadnya tersenyum: bercahaya. Tak terbayang jelita wajahnya di alam baka sana.


Tak lama setelah semua duka cita itu mereda, tibalah saatnya kami semua melaksanakan wasiat nenek. Tepat pada hari ke seratus sepuluh meninggalnya nenek, kakek memilih seorang wanita solehah nan cantik untuk diperistrinya. Seorang nenek yang baik hati dengan tiga orang anak dan sembilan orang cucu. Wanita itu memang sudah terpilihkan dengan tepat oleh nenek sebelum meninggalnya. Dulu ketika di rumah sakit, nenek pernah berkata selepas bangun dari tidurnya, “Ini mah nini Neneng, ini mah nini Neneng, bukan nini Oko, jangan salah manggil, ya. Ini mah nini Neneng.” sambil menunjuk dirinya. Entah apa yang baru saja datang dalam mimpi nenek saat itu hingga beliau bisa berkata demikian. Kami anggap itu suatu pertanda, dan tanda itu memang benar-benar nyata sekarang.


Air mata bahagia tumpah ruah sesaat selepas ikrar janji suci itu dikumandangkan oleh Abah. Di sebuah masjid tempat dilangsungkannya pernikahan fenomenal sepanjang sejarah kehidupan keluarga besar kami, hampir seluruh sanak saudara yang hadir di situ menangis. Terlebih lagi kedua mempelai laki-laki dan perempuan. Mereka bagai dua insan yang terlahir kembali. Filosofi hari raya kembali fitri di sini benar-benar terjadi. Kakek dan nenek baruku saling memandang, tersenyum. Ketika Abah mendekap dan mencium istrinya dengan gembira, seketika tawa buncah memenuhi ruangan masjid yang cukup luas dengan empat tiang itu. Kami semua bersuka cita pada hari itu. Nenek di alam sana pasti turut tersenyum bahagia menyaksikan ini semua.


Selanjutnya, bahtera kehidupan Abah dan Nini Neneng kami angankan berlangsung dengan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Kami yakin pertalian itu dilandasi oleh rasa cinta yang penuh kepada Yang Maha Kuasa. Sungguh indah cerita yang dituliskan tinta-Nya bagi kehidupan kakek, nenek, nini Neneng, dan kami semua. Setelahnya, ini akan menjadi sebuah cerita yang panjang. Mudah-mudahan cerita ini akan berujung pada dikumpulkannya kembali keluarga kami di surga yang menawan kelak. Aamiin ya Tuhanku yang Maha Penyayang.

TIDAK TAMAT

Sabtu, 28 Februari 2015

Wajah Birokrasi Indonesia dalam Cerpen “Peci Ayah”-nya Satmoko Budi Santoso



            Semua orang tahu para penggede-penggede indonesia mendapatkan jabatannya pasti melalui berbagai cara, intrik, yang biar itu halus maupun kasar, mengedepankan yang namanya kemenangan. Suara terbanyak menjadi cita-cita sendiri bagi setiap manusia yang haus akan jabatan itu. Jalan mulus dan jalan berliku dilewati. Sesekali berbuat curang mereka tak perduli. Demi tahta dan harta untuk bisa dinikmati.
            Sudah jelas dari awalnya para petinggi itu mau mendapatkan jabatan saja sudah berlaku tidak adil, bagaimana mau memandu negeri ini? Kepada dirinya sendiri saja mereka sudah berlaku tak jujur, bagaimana bisa jujur kepada rakyat? Hal itu terjadi nyaris di semua lini. Nyaris, ya, saudara. Bukan  hampir. Karena itu, adakah secercah kepercayaan kepada segolongan kecil—sangat kecil—yang masih memiliki jiwa bersih dalam hatinya selama menjalani birokrasi? Percayalah itu masih ada. Dalam cerpen “Peci Ayah”, semuanya dengan unik dijelaskan.
            Seorang lelaki pasti kelak akan memangku jabatan baik itu menjadi presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah, ketua RW, ketua RT, dan bahkan memangku jabatan sebagai “Ayah”. Ayah, yang siapapun pasti memilikinya, yang nama kita selalu dibuntutinya, yang nasab jelas terpahat darinya, akan menjadi panutan kita dalam berbagai hal. Jika ia mencoretkan tinta hitam perusak hidupnya, anaknya akan menambah coretan tersebut shingga menjadi semakin hancurlah gambar dalam kertas kehidupan keluarga. Jika dihapus atau bahkan tidak dicoret dengan tinta gelap manapun maka akan bersih pula apapun yang disalinkannya. Seorang ayah harus bisa menanamkan budi pekerti yang baik pada anaknya, salahsatunya seperti tokoh ayah dalam cerpen ini.
            Satu hal yang menjadi inti dari cerpen ini bahwa kebenaran, sampai kapanpun pasti akan terpancar cahayanya. Kebohongan dan kejujuran pasti akan kontras bedanya. Ada tangan yang menjalankan pola roda kehidupan untuk selalu berpihak pada kebenaran.
Peci, sebagai lambang kepala manusia yang menyimpan seribu ide-ide, baik maupun buruk. Tempat menyimpan segala yang dibutuhkannya dan kebenaran juga ada di kepalanya. Seiring berjalannya waktu semuanya pasti terungkap.
            Menganggap modernitas sebagai suatu yang gengsi sekarang juga terungkap dalam cerpen ini. Zaman sekarang yang sudah serba modern ini digambarkan oleh tokoh ibu sebagai kegiatan yang norak jika berurusan dengan peci, apalagi menaruh uang di lipatan peci. Tetapi ayah, bukan hanya menyimpan uang di lipatan pecinya melainkan sesuatu yang lebih penting, yang bisa menjadikan saksi nyata kalau ayah tidak tergusur oleh arus zaman yang kotor ini.
Unsur Intrinsik Cerpen
            Tema besar dalam cerpen ini tentang politik. Politik identik dengan jabatan dan birokrasi, meskipun tidak semua bait dalam cerpen ini mengandung tema politik. Sebagian besar membahas tentang peci, tapi peci di sini itu simbol kejujuran yang masih tersimpan di dalam kepala orang yang baik dan arif. Juga ada tema tentang keluarga di situ yang diterangkan mengenai kebiasaan-kebiasaannya dan sedikit bumbu pertengkarang kecil dan diselingi gelak tawa.
            Alur dalam cerpen ini adalah maju-mundur. Pertama menjelaskan tentang kebiasaan kakeknya si tokoh aku yang sering menggunakan peci kemana-mana. Berarti ini mundur dulu ke zaman sebelum kakek meninggal dan bahkan si tokoh aku masih kanak-kanak. Kemudian alur maju menceritakan keadaan sekarang si tokoh aku sudah besar dan sudah berkeluarga hingga pergi umroh. Dari sejak diceritakan mengenai pembersihan caleg di tempat tinggal si tokoh aku, alur cerita menjadi jelas kembali untuk bercerita, bukan sekedar memberitahu situasi.
            Yang menjadi latar dari cerpen ini adalah rumah, dan balai tempat rapat, juga makkah kota suci. Latar waktu tidak begitu kentara diceritakan karena terkadang hanya menjelaskan kejadian yang telah berlalu atau kebiasaan yang pernah ada, tetapi jarang menceritakan hal yang sedang terjadi. Jadi waktunya pagi, siang, atau sore, tidak begitu dijelaskan.
            Tokoh dalam ada cerpen ini ada beberapa orang di antaranya kakek si aku, ayah si aku, ibu si aku, warga RT, dan para caleg. Tokoh utama di sini adalah ayah, tapi ayah adalah kata yang perlu digambarkan dulu kondisi sebelumnya: bahwa dalam cerita ini ada tokoh ayah tentunya sudah digambarkan sebelumnya bahwa ada tokoh aku yang bukan menjadi tokoh utama tetapi tokoh pembantu.
            Sudut pandang yang dipakai dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama serba tahu karena sejak awal sudah menonjolkan kata-kata yang keluar dari pikiran si aku. Juga hanya isi pikiran aku yang diceritakan dalam cerpen ini, bukan isi pikiran siapa-siapa.

Tanggapan Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis



a.      Alur Cerita
Secara garis besar, alur cerita dalam cerpen ini adalah mundur. Diawali dengan klausa “Kalau beberapa tahun lalu Tuan datang….” itu menunjukan peristiwa teraktual yang terjadi sebelum “inti” dari semua kisah ini dipaparkan. Setelah penjelasan situasi, baru diceritakan bagaimana mulai timbulnya konflik cerita inti yang terjadi di masa lampau. Si tokoh utama yang mulai dieksiskan penulis, dengan simbol surau tua yang sudah hampir roboh, itu menjadi maskot utama cerita ini. Maskot yang selalu membayangi semasa membaca keseluruhan cerpen ini. Alur mundur dikonkritkan pula dalam ungkapan di paragraf ke lima : “Kalau Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai…” jadi itu menunjukan ungkapan kekinian di kisah itu.
Dalam menentukan alur cerita, perlu diketahui apa sudut pandang yang penulis buat untuk cerita tersebut. Di cerpen “Robohnya Surau Kami”, A.A. Navis menggunakan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang orang pertama ini diwujudkan dalam penyebutan tokoh “Aku” yang kuat membingkai cerita ini di permulaan cerita dan di akhir cerita. Kita harus mengikuti bagaimana si tokoh “Aku” ini memaparkan cerita. Si tokoh “Aku” menceritakan kejadian yang dulu yang pernah terjadi. Jadi dapat dikatakan alur cerita ini adalah mundur, bukan maju, bukan juga campuran.
Alur mundur juga dibuktikan dengan tidak adanya lagi kejadian bersifat kronologis yang diceritakan setelah si tokoh “Aku” bernarasi pada awal cerita. Situasi dan kondisi ketika membaca cerpen ini bisa sambil membayangkan si tokoh “Aku” yang sedang duduk manis sambil bercerita semuanya. Setelah selesai diceritakannya kisah Ajo Sidi, si tokoh “Aku” menceritakan betapa ia terkejut mendengar kabar Kakek meninggal. Tapi itu tetap bukan menunjukkan bahwa alur ini kembali maju menjadi campuran. Itu karena sudah dinyatakan pula di paragraph ke empat :
“Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang.”
Itu artinya, sejak awal si tokoh Aku memang sudah menunjukan bahwa ia tahu kakek sudah meninggal.
b.      Tema Cerpen
Tema cerpen ini adalah sindiran atau satire. Bentuk sindiran itu diberikan telak bagi masyarakat Indonesia yang mengira kalau menjadi hamba Tuhan bukan sekonyol itu caranya. Cerpen ini juga menyentil segi agama atau religiositas. Nuansa religius sudah tergambarkan dari judul yang menyebut “Surau” : tempat ibadah, lambang kesucian. Tempat si tokoh “kakek” menghabiskan seluruh sisa hidupnya dan berandai-andai masuk ke tempat terindah yang dijanjikan Tuhan. Padahal nyatanya tidak.
Dalam cerpen ini, A.A. Navis ingin meneriakkan bahwa sejatinya perintah agama itu bukan hanya sekedar beribadah mematut diri di dalam surau dan berdzikir, tetapi bersosialisasi dan mengurus bumi tempat berdiri adalah juga kewajiban bagi umat manusia. Lebih dari itu, perintah agama juga bukan hanya membantu orang lain dengan ikhlas dan mengharap balasan di akhirat saja, tetapi juga harus mengurusi kehidupan di dunia: bagaimana makannya, mencari nafkahnya, dan sebagainya. Betapa cerpen ini membuka mata dengan jelas bahwa dunia memang tidak terlepas dari akhirat. Dan tidak ada yang tidak bisa memungkiri itu, sesungguhnya.
Cerpen ini menjadi terkenal setelah diberi penghargaan sastra majalah Kisah tahun 1955. Fenomena seperti diceritakan di cerpen “Robohnya Surau Kami” ini merupakan fenomena teraktual yang banyak terjadi di situasi masyarakat dewasa ini. Tidak heran karya ini selalu menjadi primadona dengan diwajibkannya dipelajari di sekolah-sekolah sejak dini. 
c.       Biografi A.A. Navis
A.A. Navis adalah seorang sastrawan Indonesia asal Sumatera Barat kelahiran tahun 1924. Prinsipnya menulis bukan untuk mencari ketenaran tetapi untuk satu visi yang jelas: memperjuangkan agamanya yaitu islam. Hal ini terlihat jelas dalam karya-karyanya yang kebanyakan bertemakan islam dan tak jarang mendapatkan penghargaan-penghargaan sastra dari berbagai institusi. Ini menunjukkan kualiatas dan produktivitas sastrawan yang dapat diacungi jempol melalui karya-karya fenomenalnya.
Dahulu ketika kecil, ayahnya selalu membeli majalah Panji Islam dan Pedoman Masyarakat yang keduanya bertemakan islam. Dari situ Navis kecil mulai membaca dan belajar memahami apa sesungguhnya yang menjadi “pedoman” hidup sejati bagi manusia. Semua resepsi pemahamannya ia tuangkan dalam bentuk cerita. Memang, kreatifitas seni A.A. Navis sudah tidak diragukan lagi
Ia bukan termasuk warga Sumatra yang senang merantau. Tidak seperti kebanyakan, A.A. Navis memilih untuk bersekolah di Indonesisch Nederiandsch School (INS) di daerah Kayutaman selama 11 tahun. Semasa bersekolah itulah ia rajin membeli dan membaca buku-buku sastra, belajar kesenian, juga keterampilan. Karena itulah kecerdasan seni A.A. Navis sungguh luar biasa.
AA Navis sebenarnya adalah seorang pengarang yang menyuarakan suara Sumatera di tengah konsep Jawa (pengarang Jawa) sehingga ia layak disebut sebagai pengarang “Angkatan Terbaru”. A.A. Navis juga pernah menjadi pemimpin redaksi harian Semangat (harian angkat­an bersenjata edisi Padang), Dewan Pengurus Badan Wakaf INS, dan pengurus Kelompok Cendekiawan Sumatera Barat (Padang Club). Di samping itu, A.A. Navis juga sering menghadiri berbagai seminar masalah sosial dan budaya, sebagai pemakalah atau peserta.
Sastrawan bernama lengkap Ali Akbar Navis ini menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 2013 karena komplikasi dan penyakit jantung. Meskipun ia wafat karya-karyanya tetap abadi seperti “Robohnya Surau Kami”, Kemarau (1992), Saraswati Si Gadis dalarn Sunyi, (1970), dan lain lain. Beliau juga telah membuat karya-karya non fiksi seperti Surat-Surat Drama, Budaya, Hamka sebagai Pengarang Roman, Berita Bibliografi, Warna Lokal dalam Novel Minangkabau, Memadukan Kawasan dengan Karya Sastra, Kepenulisan Belum Bisa Diandalkan Sebagai Ladang Hidup, Menelaah Orang Minangkabau dari Novel Indonesia Modern, dan masih banyak lagi.
Karya-karya itu tidak sedikit yang beruntung disematkan gelar penghargaan sastra dari berbagai institusi.

Sabtu, 03 Januari 2015

Memaksimalkan Potensi Pemberian Allah dalam Ladang Amal Islam


            Betapa pentingnya mempelajari Alquran bagi setiap jiwa-jiwa manusia yang terkena kewajiban berislam secara kaffah. Alquran bukanlah piala yang dibaca hanya saat seremonial perayaan hari-hari tertentu saja. Al-quran bukan saksi bisu para petinggi yang dilantik dan ucapkan janji. Al-quran diturunkan untuk memberi petunjuk dan penerang kepada ummat manusia. Banyak yang menumpahkan darah dan keringatnya karena Al-Quran ini. Demi Al-Quran dan tegaknya islam, banyak yang rela mati dan mengorbankan harta, kerluarga, serta jiwanya. Apakah Quran sesederhana yang kita biasa perlakukan kepadanya sehari-hari? Hanya sebagai pajangan di rumah saja atau sebagai mas kawin pernikahan? Tidak, kawan. Al-Quran, kitab suci yang diturunkan Allah kepada manusia tidak sesederhana itu.
            Lihatlah dan renungi isi Al-Quran. Suatu karya sastra tingkat tinggi yang tidak ada manusia seorangpun yang mampu membuat sama persis seperti itu. Al-Quran, oleh Allah swt senantiasa dijaga kemurniannya. Dengan menjadi pengajar Quran, insya allah membuktikan bahwa cahaya Allah memang tidak pernah dan tidak akan pernah padam. Ini bukti nyata yang sangat terasa bahwa akan terus ada penegak Al-quran di muka bumi ini. Betapa mulianya derajat orang-orang yang turut berjuang dalam program Allah ini. Yang terpenting adalah maukah kita turut serta dalam misi luar biasa Allah ini? Jawabannya haruslah sangat mau.
            Potensi manusia yang Allah berikan begitu besar mengingat perannya sebagai pengemban amanah dan fungsinya sebagai kholifah di muka bumi. Untuk itu, Allah anugerahi potensi kepada kita berupa pendengaran, pengelihatan, dan hati. Potensi itu diberikan khusus oleh Allah hanya kepada manusia dan bukan makhluk-Nya yang lain. Jika dahulu kala gunung, langit, bumi dan makhluk ciptaan-Nya yang lain menerima amanah untuk mengidzharkan islam di muka bumi, maka mungkin potensi itu akan disematkan pada makhluk yang lain itu. Tetapi manusia, ketika ditawarkan oleh Allah mengemban amanah besar itu, mereka menerimanya. Tetapi sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.
            Ditambah bonus potensi eksternal diri berupa petunjuk hidup yakni Al-Quranul Karim. Tidak mungkin Allah menciptakan suatu makhluk tidak diberi manual book atau tata cara menghidupkan semua ‘perangkat’ yang bisa digunakan makhluk itu dalam hal ini manusia. Manusia ibarat mesin yang perlu dinyalakan untuk mencapai sautu fungsi tertentu. Al-Quran ini semacam buku petunjuk penggunaan fungsi manusia yang adalah sebagai kholifah. Bagaimana cara menjalankan perangkat yang ada di diri manusia untuk menjalankan fungsinya, semuanya ada di dalam Al-Quran. Petunjuk menjalankannya, cara menghidupkannya, dan cara membetulinya jika sedang rusak, semuanya tertera di dalam Al-Quran. Manusia tinggal membaca, mempelajari, dan mengamalkannya saja. Dengan penuh ketekunan dan kesadaran penuh bahwa hidup ini nantinya akan dipertanggungjawabkan.
Metode Mengajar
          Tahukah kalian para sahabat tabi’i dan tabi’in bisa menghapal Al-Quran tanpa meilhat tulisan Al-Quran secara langsung. Al-Quran sendiri turun bukan dalam bentuk buku dan mushaf, ataupun Iqra dan Qiroati seperti metode yang diajarkan di zaman sekarang. Al-Quran turun berangsur angsur kepada Nabi Muhammad untuk dibacakan kepada ummatnya secara perlahan-lahan. Sesuai konteks dan asbabun nuzulnya, Al-Quran diturunkan oleh Allah melalui malaikat jibril sesuai kehendak Allah. Ketika Allah berkehendak, semuanya diberkahi dan dirahmati. Tidak ada penghalang bagi Allah untuk melakukan semua kehendaknya.
            Apa metode yang digunakan Rasulullah SAW dalam mengajarkan Al-Quran kepada para sahabat khususnya dan ummatnya pada umumnya? Ialah metode menirukan bacaan Al-Quran dengan fasih dan tartil. Tingkat kebenarannya 100% bersih karena yang diajarkan langsung oleh malaikat jibril dengan segera disampaikannya/diulang pengucapannya kepada para sahabatnya.
            Sahabat dan orang-orang terdekat nabi kemudian memperhatikan gerakan bibir Rasulullah saat sedang membacakan ayat quran. Sama sekali tidak ada yang salah dan melenceng. Maka para sahabat setelah itu merekam dalam otaknya dan mempraktekkan bacanya dalam misi dakwah islam kepada kaum yang masih ‘jahil’ lainnya. Begitulah inti metode pengajaran yang dilakukan Rasulullah SAW saat menyampaikan apa yang harus tersampaikan dari Allah kepada manusia. Yaitu wahyu yang suci dan murni yang saat ini termaktub dalam mushaf Al-Quran yang bisa dipegang, dibeli dan dipelajari dengan mudah. Seharusnya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mempelajari Al-Quran dengan tartil dan fasih. Bayangkan jika bacaan kita ada sedikit saja yang salah, maka keturunan kita bisa salah lebih banyak. Jika di bibir kita melakukan kesalahan membaca al-quran sebesar 1%, maka bisa jadi keturunan kita yang ke-100 melakukan kesalahan membaca al-quran sampai 100%. Artinya salah semua dan kalau sudah begitu, dosa besar kita pikul hanya karena kesalahan kecil membaca al-quran. Maka, menjadi penting mempelajari Al-quran dengan benar dan sesuai dengan huruf-huruf yang ditentukan.
            Metode yang paling tepat untuk mengajarkan Al-Quran tentunya yang dilakukan Rosulullah SAW sebagai penerima wahyu pertama yang mengajarkan kepada para sahabatnya, yaitu dengan cara memperlihatkan cara baca melalui mulutnya yang mengucapkan ayat-ayat dengan fasih dan tartil. Bahkan ada sahabat nabi yang langsung hafal surat Qaf ketika rasulullah selesai khutbah. Dalam khutbahnya, rosullullah SAW melefadzkan surat Qaf dengan bersih sebanyak satu surat. Terbukti betapa jelas dan tartil bacaan Rasulullah yang diperhatikan oleh sahabat itu ketika berkhutbah. Jadilah sahabat tersebut bisa langsung memahami dan mengamalkan apa yang dibaca oleh rosulullah, Jika seorang anak kecil saja ada yang memperhatikan khutbah rasul itu, mungkin akan mengalami hal yang sama seperti sahabat itu: bisa langsung hafal surat Qaf setelah Rasulullah membacakannya secara benar-benar benar.
            Begitu pula saya yang jika diterima di beasiswa pengajar quran dari salman akan mencoba menerapkan metode tersebut saat mengajarkan quran. Sebisa mungkin saya mencontohkan bacaan al-quran yang tartil dan fasih. Dengan bekal belajar yang sudah saya dapatkan selama bersekolah di madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah, serta mengikuti berbagai pesantren kilat yang dilaksanakan di beberapa pesantren di jawa barat di antaranya Bina Qolbu di bogor dan pesantren Al-Mukhtar di Tasikmalaya, saya merasa ada kewajiban yang melekat kepada saya untuk meneruskan ilmu ini kepada yang lainnya.
Hal ini dilakukan semata-mata untuk memaksimalkan perangkat yang telah allah anugerahi kepada manusia, khususnya kepada diri saya, dalam menolong agama allah islam yang haq ini. Lebih dari itu, saya menganggap ini adalah ladang amal saya dalam rangka beribadah kepada Allah. Ibadah derajatnya lebih tinggi daripada berbakti, karena berbakti berarti pula ibadah. Saya ingin mengabdi kepada Allah dengan sepenuhnya. Dengan adanya beasiswa ini saya berharap selain bisa belajar dan mengamalkan ilmu yang sudah saya dapat selama bersekolah di madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan beberapa pesantren yang pernah saya kunjungi, saya juga bisa mendapat pahala yang besar dari Allah. Saya sangat berharap besar bisa turut andil dalam menjalankan program Allah ini. Program besar mengajarkan ayat suci Al-Quran yang isinya berupa wahyu yang tidak bisa disepelekan. Berisi segala hal yang menyangkut kehidupan manusia, alam semesta, beserta seluruh isinya.


Minggu, 07 Desember 2014

kepalsuan

bulan mengetuk pintu
bumi menyahut
"ada apa?
"aku tidak bisa datang ke pestamu nanti malam."
"kenapa?"
"bintangku sakit, ia ingin bersembunyi"
"tidak ada yang akan merecokimu seperti kemarin lagi."
"aku takut"
"datanglah"
"aku mau datang. ingin sekali. tapi hanya untuk satu hal. dia yang selalu menantiku. temanmu.."
terkadang orang tak sepenuhnya mau menolong

Minggu, 05 Oktober 2014

KARAVAN PENGANGKUT ILMU untukmu SMAN 25 Bandung

Kusongsong pagi dengan bermandikan sinar lembut mentari
Mengantarkanku ke gerbang peraduan ilmu
Lelaki paruh baya siaga menyapa
Tiada kan kami lupa jasanya

Jalan lurus yang kami lalui
Menjanjikan satu masa depan cerah
Para pahlawan tanpa tanda jasa itu
Menyambut kami penuh kehangatan
Menularkan semangatnya melalui genggaman tangan
Dengan tulus beriring doa
Bagai menyambut pejuang perang yang kan berlaga

Dari gerbang itulah semuanya dimulai
Perjumpaan yang mekar menjadi pertemanan
kebersamaan yang tumbuh ranum memanenkan persahabatan
Kesantunan yang menjelma menjadi kobaran semangat berkarya
Suka duka tiada dirasa
Segala peluh yang menetes tiada kan sia-sia

Langkah ini,
menderapkan langkah penggapai mimpi
Deru napas ini,
Menghembuskan semangat pejuang cita
Degup jantung ini,
mendetakkan asa yang tak pernah mati
Desir darah ini,
mengalirkan motivasi di kala sepi
Selalu haus akan ilmu-Mu

Kuterus melaju hingga kusadari memang tak ada yang abadi
Kini ku menepi dari sekian bebatuan hidup yang terus merecoki
Tapi semua terkenang kembali
Semua berputar kembali dalam memori
Tiga tahun masa di sini
Cerita-cerita indah telah banyak terpatri

Bersama karavan ini
Kami melaju menuju oasis kesuksesan
Dipandu guide handal bernama guru
Yang bukan cuma menunjukkan tetapi juga memberi jalan

Satu hal yang membuatku dapat terus bertahan di karavan ini :
Yakin biarpun yang dilalui terasa begitu pahit...
Tapi sungguh manis setelah dikenang

Terimakasih sekolahku, SMAN 25 Bandung

-dibuat pada malam lebaran, 2014-